www.bankkamu.blogspot.com

blog ini khusus untuk menyimpan artikel artikel dan bisnis terutama bisnis yang berbasis on line di dunia maya internet.mohon maaf jika masih banyak kekurangan baik dari segi artistik blog dan isi jauh dari sempurna.kami masih banyak butuh bimbingan dan arahan serta kritikan yang sifatnya membangun untuk kesempurnaan blog kami ini.trima kasih telah mau berkunjung di rumah kami ini...www.bankkamu.blogspot.com.
Tampilkan postingan dengan label artikel bola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel bola. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Desember 2010

daftar pemain masa depan sepak bola indonesia

Inilah Pemain Masa Depan Sepakbola Indonesia
wonderkid 001 :
Dendi Santoso (lahir di Malang, Jawa Timur, 9 Mei 1990; umur 19 tahun) adalah seorang pemain sepak bola Indonesia. Saat ini dia bermain untuk Arema Indonesia di Liga Super Indonesia. Dia memulai belajar sepak bola di SSB Unibraw 82, kemudian Dia terjaring dalam Akademi Arema tahun 2004. setelah itu di tahun 2006 Dia masuk di tim Arema Jr U-18 Piala Soeratin Liga Remaja Nasional, di tahun 2007 Dia ikut membawa Arema Jr juara Piala Soeratin LRN U-18. Di tahun 2008 Dia menjadi bagian dari tim B atau tim U-21 Arema. Pada putaran kedua Liga Super Indonesia 2008/09 statusnya naik menjadi pemain senior. Dia biasa berposisi sebagai penyerang sayap. Ia adalah salah satu anggota skuad timnas U-23 Sea Games XXV 2009 yang diterjunkan di Vientiane, Laos.
Wonderkid 002:
Yongki Ariwibowo Pemain yang memulai karier sepakbolanya dari Sekolah Sepakbola (SSB) Sinar Jaya, Tulungagung, memang tipikal striker yang pandai menempatkan posisi di depan gawang lawan. Ketangkasannya membawa bola juga patut diperhitungkan. Dengan tinggi 175cm dan berat 63kg, dia juga mahir menyantap bola-bola atas.
Wonderkid 003:
Syamsir Alam (lahir di Balingka, IV Koto, Agam, 6 Juli 1992; umur 17 tahun) adalah seorang pemain sepak bola Indonesia. Saat ini ia bermain untuk SAD Indonesia. Tim yang saat ini berguru di Uruguay, Amerika Selatan. Syamsir adalah lulusan dari SSB AS IOP, SSB yang didirikan oleh mendiang Ronny Pattinasarani. Syamsir pernah mengikuti Piala Dunia U-11 Danone bersama Makassar FC yang mewakili Indonesia. Ia juga sempat mengikuti tes bersama tim junior dari Belanda, Vitesse Arnhem dan Heerenveen tapi sayang gagal. Syamsir adalah type striker pekerja. di kompetisi Liga U-17 Quinta Division 2008 ia menjadi top skor dari tim SAD Indonesia dengan mengemas 15 gol dari 29 laga yang dilakoninya. Syamsir dikenal sangat dekat dengan pelatihnya Cesar Payovich.
Wonderkid 004:
Kurnia Meiga Hermansyah (lahir di Jakarta, 7 Mei 1990; umur 19 tahun) adalah seorang pemain sepak bola Indonesia. Saat ini dia bermain untuk Arema Indonesia di Liga Super Indonesia, Arema adalah klub profesional pertama yang ia perkuat setelah lulus dari SLTA. Arema tertarik mengontraknya karena Kurnia adalah punggawa Timnas PSSI U-19. Kurnia saat ini menjalani skorsing 6 bulan dari Komdis PSSI, karena terbukti melempari wasit pada laga saat Arema lawan PKT Bontang. Kurnia adalah adik kandung dari Achmad Kurniawan penjaga gawang dari Semen Padang. Kurnia berposisi sebagai penjaga gawang.
Wonderkid 005:
Biodata
Nama : Rachmat Latif
Lahir : Makassar, 27 September 1988
Tinggi/Berat : 184 cm/79 kg
Posisi : Stopper
Karir : MFS (2000-2005)
Timnas U-17 (2005)
Persib U-23 (2006)
PSM Makassar (2007)
Timnas U-19 (2008)
Timnas U-21 (2008)
Wonderkid 006:
Yandi Sofyan Munawar (lahir di Garut, Jawa Barat, 25 Mei 1992; umur 17 tahun) adalah seorang pemain sepak bola Indonesia. Saat ini ia bermain untuk SAD Indonesia. Tim yang saat ini berguru di Uruguay, Amerika Selatan. Posisinya dalam bermain adalah sebagai Striker, Ia menggunakan kostum nomor punggung 9. Yandi merupakan adik dari Zaenal Arief, pemain yang kini bermain untuk tim Persisam Putra Samarinda.
Wonderkid 007:
Irvin Museng (lahir di Makassar, 16 Juli 1992; umur 17 tahun) adalah seorang pemain sepak bola Indonesia. Ia berposisi sebagai penyerang. Dia pernah menjadi top skorer Danone Cup di Prancis tahun 2005. Sehingga dia diterima di tim yunior Ajax Amsterdam. Kemudian balik ke PSM Makassar. Sekarang dia bermain untuk Pro Duta Bandung di Divisi Utama Liga Indonesia.
Wonderkid 008:
Irfan Bachdim (lahir di Amsterdam, 11 Agustus 1988; umur 21 tahun). Irfan merupakan warga negara Belanda keturunan Indonesia, Irfan pernah hampir pasti membela tim sepak bola U-23 Indonesia di Asian Games 2006 – Qatar. Sayang, dia harus absen dari turnamen tersebut karena menderita cedera saat terkena takling saat bermain di Liga Junior. Pada Bulan Juli 2009 dia ditransfer tanpa biaya ke klub HFC Haarlem.

Wonderkid 009:

Nama Hanif mulai mencuat saat memperkuat timnas U-13 Indonesia pada Festival AFF 2009 di Sabah,Malaysia tahun lalu. Dalam even ini, bocah kelahiran 7 April 1997 itu terpilih menjadi salah satu pemain terbaik.

Sebagai hadiah, Hanif lantas diboyong oleh orang tuanya untuk berkunjung ke markas MU. Di sana Hanif didaftarkan untuk ikut kurusus untuk anak seusianya.

sepak bola nasional masa depan

Masa Depan Sepakbola Nasional Bukan Cuma di SAD Indonesia


Pada awal 1980-an, muncul terobosan dari Ketua Umum PSSI Ali Sadikin dengan mengirimkan timnas berlatih ke Brasil. Pilihan ditempuh karena timnas Merah-Putih mulai kering prestasi, terakhir menjuarai Piala Anniversary di Jakarta, 1972. Tim dikenal dengan nama Indonesia Binatama. Proyek ini sempat berjalan selama enam bulan. Akibat bermasalah dengan kualitas pelatih, proyek dihentikan.

Ide pengiriman tim berlatih ke luar negeri kembali tercetus pada era kepemimpinan Azwar Anas, pertengahan 1990-an. Demi cita-cita tampil di pentas dunia pada 2002, Indonesia mengirimkan tim untuk mengikuti kompetisi di Italia. Bedanya, kali ini tim yang dikirimkan adalah tim yunior. Kelak tim tersebut dikenal dengan nama kompetisi U-19 yang mereka ikuti, Indonesia “Primavera”.

Proyek tersebut diulangi setahun kemudian dengan mengirimkan tim mengikuti kompetisi U-16, dan tentu saja dikenal masyarakat dengan nama Indonesia “Barretti”. Setali tiga uang dengan proyek Brasil, generasi Primavera dan Barretti gagal membuahkan prestasi yang gemilang.

Cita-cita menyaksikan anak negeri bermain di pentas sepakbola dunia ternyata terus hidup sepanjang masa. Pada 25 Januari 2008, dikirim 25 pemain timnas Indonesia U-16 untuk mengikuti kompetisi taruna Quinta Division di Uruguay. Proyek tersebut direncanakan berlangsung selama empat tahun. Di Uruguay, tim muda Indonesia akan dilatih Cesar Payovich Perez dan asisten Jorge Anon. Seperti yang dikutip dari Sinar Harapan, proyek menelan dana Rp12,5 miliar per tahun dan bertujuan mencetak pemain Indonesia yang berkualitas, bukan sebuah tim seperti generasi Primavera dan Barretti terdahulu. Yang kemudian dikenal sebagai SAD Indonesia. (sumber : Agung Harsya di goal.com)

Kini Indonesia patut berbangga, karena di tahun ke 3 nya mereka berlatih di Uruguay, SAD Indonesia telah menjadi salah satu klub junior yang diperhitungkan di Uruguay. Proyek kerjasama antar Penarol dan SAD Indonesia pun saya kira juga bukan kerjasama biasa dalam bidang pembinaan pemain muda, tapi lebih dikarenakan Club Atletico Penarol menaruh minat besar terhadap potensi besar yang dimiliki oleh pasukan garuda-garuda muda kita. Bahkan pelatih timnas Uruguay, Oscar Tabarez, menilai masa depan Merah Putih berada di Tim S.A.D Indonesia yang sedang berguru di Uruguay, hal ini diungkapkan Usai “mengajarkan” sepak bola kepada timnas Indonesia, Jumat (8/20), Tabarez kemudian mengatakan “Indonesia harus lebih mempersiapkan diri dengan melatih pemain-pemain yang berlatih di Uruguay karena mereka sangat menjanjikan,”.

Tidak heran memang apabila kemudian pasukan SAD Indonesia digadang-gadang dapat memberikan sesuatu yang hebat bagi sepakbola nasional. Mempunyai skill khas Amerika Latin, daya juang Amerika Latin dan mental juara langsung menjadi stigma yang melekat pada Syamsir Alam dkk kini. Tim yang telah dipersiapkan selama hampir 3 tahun ini akan digunakan sebagai lokomotif terdepan terhadap prestasi sepakbola nasional dimasa depan.

Namun tetap saja ada sedikit kekecewaan yang datang dari sebuah proyek yang akan menghasilkan talenta-talenta brilian asal Indonesia ini. Hati kecil saya pun mulai berkata seperti inilah Indonesia, mereka tidak pernah belajar dari kesalahan yang pernah mereka buat. Dulu proyek primavera sukses melahirkan pemain seperti Kurniawan D Yulianto, Kurnia Sandi dkk. Tapi tetap saja setelah proyek primavera berakhir, generasi selanjutnya tidak secemerlang generasi yang ikut dalam proyek Primavera.

Maka tidak heran jika generasi Kurniawan D Yulianto dkk bisa bertahan lama membela Timnas Indonesia. Dari segi skill individu tentu kita tidak meragukan kemampuan Kurniawan D Yulianto dkk dalam mengolah si kulit bundar, tapi yang jadi masalah adalah perhatian publik sepakbola kita yang selama ini larut dalam kebanggaan sementara yang terstigma pada tim hasil Primavera baru ini, membuat kita lupa akan pembinaan didalam negeri dan tanpa kita mau berkaca apa manfaat selanjutnya proyek tersebut bagi perkembangan sepakbola nasional seluruhnya.

Menurut saya proyek primavera atau SAD Indonesia adalah proyek yang menguntungkan hanya bagi Timnas dan pemain hanya pada saat itu. Namun proyek tersebut jelas-jelas tidak mendatangkan manfaatnya bagi sepakbola dalam negeri, PSSI lebih condong mengirim talenta kita ke luar negeri dengan tujuan anak-anak ini suatu saat bermain untuk kesebelasan di Luar negeri daripada menjadikan sistem pembinaan yang dijalankan SAD Indonesia di Uruguay sebagai standar role model atau blue print bagi proses pembinaan didalam negeri yang wajib dijalankan oleh klub-klub di Indonesia.

Jika terus-terusan seperti ini, maka saya katakan selamat kepada PSSI yang tidak pernah belajar dari masa lalu. PSSI sebagai induk organisasi sepakbola di Indonesia seharusnya bukan cuma menjadi regulator body dan penyelenggara kompetisi tapi juga harus membina klub-klub di Indonesia. Kalau langkah-langkah seperti ini terus yang ditempuh, yah wajar saja kalau generasi Bambang Pamungkas atau Syamsir Alam dkk yang akan terus menghiasi wajah Tim Nasional kita di masa depan.

Saran saya lebih baik metode pembinaan baik pelatihan, infrastruktur, asupan makanan dll yang digunakan di SAD Indonesia dalam mengikuti kompetisi di Uruguay diterapkan dan dikembangkan di Indonesia serta diwajibkan menjadi basis kurikulum akademi klub di Indonesia pada nantinya. Sayang jika akhirnya kita cuma bisa membanggakan 1 generasi seperti Syamsir Alam dkk. Padahal di Indonesia banyak bakat-bakat yang belum terasah dan wajib mendapatkan pelatihan teknik dan taktik yang baik. Jika harus terus-terusan mengasah bakat ke luar negeri tanpa ada output apa-apa bagi perkembangan sepakbola dalam negeri akan menjadi sia-sia karena seharusnya proyek primavera bukan saja menguntungkan bagi pemain dan timnas hanya pada waktu itu saja tapi harus juga menguntungkan bagi perkembangan sepakbola dalam negeri khususnya pembinaan kita.

Saya tidak memandang remeh terhadap program PSSI yang telah menuai hasil yang cukup bagus pada saat ini, tapi seharusnya program tersebut diimbangi oleh pembinaan dan kompetisi usia muda dilevel klub karena kita butuh lebih dari 11 pemain seperti Syamsir Alam dkk untuk dapat membawa Indonesia berbicara banyak di level Internasional di masa datang. Jadi stop berbicara bahwa saat ini SAD Indonesia adalah oase ditengah keringnya prestasi sepakbola kita, perjalanan masih panjang, ketergantungan kita terhadap proyek ini adalah sebuah bentuk keputus asaan terhadap pengelola pembinaan di dalam negeri maka saya harap jangan lagi kita mengulang kesalahan yang sama dalam mengelola sepakbola nasional. Ayo PSSI segera kirim peneliti kita untuk meneliti sistem pembinaan dan kompetisi disana yang pada nantinya hasil dari penelitian tersebut dapat dikembangkan dan wajib diterapkan di Indonesia, karena masa depan sepakbola nasional bukan cuma di SAD Indonesia saja tapi juga pada proses pembinaan yang ada di dalam negeri.

Bravo Sepakbola Nasional

demam irfan bachdim

Demam Irfan Bachdim tengah melanda tanah air. Penyerang berdarah Indonesia-Belanda itu telah mengundang gerbong baru penyokong tim nasional. Mereka adalah kaum hawa yang tergila-gila oleh ketampanan pemain berusia 22 tahun itu.

“Akhirnya ada pemain timnas kita yang berwajah tampan.” Begitu komentar seorang hawa yangkini mendadak rajin mengikuti pertandingan tim nasional. Karena kehadiran si pemain tampan itu keberhasilan timnas menjadi lebih banyak diperbincangkan, termasuk oleh kaum hawa. Hadirnya jejaring sosial Twitter dan facebook kemudian membuat gelombang itu menjadi lebih besar dan menasional.

Jadi sama sekali tak mengherankan ketika seorang rekan kerja saya dibuat terkaget-kaget karena anak gadisnya yang masih SMA tiba-tiba mengajak nonton ke Stadion Utama Gelora Bung Karno. Sang dara yang semula tak pernah benar-benar tertarik untuk menonton sepak bola –di televisi sekalipun– kini telah ikut terbawa arus besar itu.

Bachdim, pemain Persema Malang yang berayah orang Indonesia serta beribu orang Belanda, memang memiliki modal jadi pujaan kaum hawa. Wajah Indo-nya sungguh imut dan nyaman dipandang. Tapi tato di lengannya membuat ia juga kelihatan macho.

Bachdim adalah cerminan wajah sepak bola kita yang telah berubah. Berpasangan dengan dia di lini depan tim nasional ada Christian Gonzales, pemain naturalisasi asal Uruguay. Kehadiran keduanya telah membuat Bambang Pamungkas, yang selama ini selalu jadi andalan timnas, tersisih ke bangku cadangan. Dan yang agak di luar dugaan kehadiran keduanya sama sekali tak mengundang reaksi negatif dari masyarakat.

Hal itu mungkin juga didukung oleh hasil mengesankan yang diraih Timnas. Di ajang Piala AFF yang tengah berlangsung, mereka bisa menekuk Laos 6-0, melibas Malaysia 5-1, dan menghajar Thailand –yang selama ini dikenal sebagai raja sepak bola Asia Tenggara– dengan skor 2-1.

Euforia pun kemudian muncul. Rentetan hasil bagus itu mendadak dibaca sebagai tanda-tanda kebangkitan tim nasional. Dan mungkin itu adalah cermian dari sebuah harapan setelah imnas terlalu sering mengecewakan publik. Dalam tujuh gelaran Piala AFF (dulu Piala Tiger) misalnya, tim Merah-Putih sam sekali belum pernah juara.

Saya sendiri memilih menahan diri agar tak segera larut dalam euforia itu. Mengikuti sepak terjang Tim Garuda secara intens membuat saya kerap kecewa.

Saya masih ingat betul pada 2002, di turnamen sama Indonesia yang dibesut Ivan Kolev (kini pelatih Sriwijaya FC) tampil lumayan di babak penyisihan grup. Catatan tak pernah kalah mengantar tim itu ke semifinal. Keberhasilan menekuk Malaysia 1-0, juga membuat tim itu melaju ke final. Sayang di partai puncak Indonesia ditekuk Thailand 4-2 dalam adu penalti setelah tim bermain 2-2.

Dua tahun kemudian, euforia kebangkitan juga sempat muncul di awal keikutsertaan di turnamen Asia Tenggara itu. Di bawah besutan Peter Withe, mantan pelatih Thailand, Indonesia tampil mengesankan di babak penyisihan grup.

Ilham Jayakesuma dan kawan-kawan saat itu menjadi juara Grup A juga dengan sejumlah kemenangan telak: 6-0 atas Laos, 3-0 atas Vietnam, 8-0 atas Kamboja, meski juga sempat ditahan Singapura tanpa gol. Kemenangan 5-3 dari Malaysia lantas mengantar tim ke babak final. Sayangnya, lagi-lagi di babak puncak kita harus kandas. Kali ini ditekuk Singapura 1-3 dan 2-1.

Saya sesungguhnya agak khawatir bahwa hebatnya kita bukan karena murni karena peningkatan kualitas tim kita, tapi karena lawan yang tengah menurun. Kekuatan lama Asia Tenggara, yakni Thailand, Singapura, dan Vietnam (ketiganya mantan juara) sama-sama tampil kedodoran di ajang ini. Filipina, dengan sederet pemain blasteran serupa Irfan Bachdim, justru muncul sebagai kuda hitam mencengangkan.

Tapi, tentu saja, saya sangat berharap euforia yang muncul kali ini akan berakhir lain, lebih manis. Dan memang ada sejumlah hal yang bisa membuat kita lebih optimistis.

Di tubuh tim nasional, Alfred Riedl, pelatih asal Austria, sudah berani melakukan hal yang agak berbeda dari pendahulunya. Ia punya keberanian. Mantan pelatih Laos itu tak segan mencadangkan BP, penyerang yang selama ini dianggap jadi ikon timnas, demi dua pemain naturalisasi.

Ia mencoret Boaz Salossa, pemain paling berbakat yang dimiliki Indonesia karena dianggap tak disiplin. Riedl juga berani mengandalkan darah baru untuk timnya, termasuk Zulkifli Syukur, Muhammad Nasuha, Oktovianus Maniani, dan Ahmad Bustomi.

Klaim kebangkitan sepak bola nasional tentu masih harus ditunggu kebenarannya, paling tidak pada partai final pada 29 Desember nanti. Tapi di satu sisi, saat ini pun kita sesungguhnya sudah memenangi sesuatu.

Masyarakat, termasuk banyak kaum hawa, kini mulai kembali menunjukkan kecintaannya yang menggelora pada timnas. Ini adalah arus positif yang berkebalikan dengan tren belakangan ini berupa terus membanjirnya kekecewaan, cercaan, dan tuntutan mundur buat Ketua Umum PSSI Nurdin Halid.

Aspek positif lain juga ada dalam berubahnya rekrutmen pemain tim nasional. Masuknya para pemain naturalisasi ke dalam tim, yang relatif mulus tanpa penolakan, mungkin jadi penanda telah kian terbuka masyarakat kita.

Hal-hal positif itu mungkin saja akan jadi modal berharga bagi masa depan sepak bola kita. Semoga